Posted in Poem

Sungguh

Bukankah sudah ku bilang untuk menetap
Disini saja. Jangan beranjak
Kecuali jika kau bosan, ingin mencari pelarian
Kalau hanya sebentar, akan kuijinkan

Aku ingin menatap gurat wajahmu yang tersenyum
Sungguh
Tatkala hujan rintik sore hari
Di waktu terang bulan malam hari

Andai saja ku tahu sedari dulu
Hidup itu tidak semudah menendang batu
Ingin ku lama-lama saja dipelukmu
Tiada resah, tanpa takut dan ragu

Aku ingin bersenda gurau denganmu
Sungguh
Di saat sibuk pagi hari
Ketika terik siang hari

Sungguh ibu.
Tidaklah aku sembarang merayu
Bersamamu aku tau,
Kehangatan yang dikata orang tabu

 

 

ullyiz

Advertisements
Posted in short story

Berlari

Pernahkah kau merasa begitu penat hingga rasanya kau ingin membanting apapun benda yang ada dihadapanmu?
atau mungkin pernahkah kau memikirkan sesuatu dengan begitu keras seakan adalah sebuah dosa jika kau berhenti memikirkan hal itu tanpa menemukan sesuatu apapun untuk setidaknya “menyelesaikannya”?
Aku sedang duduk bersandar di kursi panjang yang terletak di depan air mancur Taman Kota. Berusaha mengatur nafasku sendiri – atau mungkin yang akan kau lihat adalah aku yang sedang menghela nafas panjang berkali-kali – sambil menangkupkan kedua tangan pada wajahku.
Aku sedang memperhatikan awan-awan yang melintas, ketika seseorang melangkah mendekat. Ku turunkan pandanganku dan menemukan seseorang mengulurkan  satu tangannya padaku. Aku menatapnya dengan satu alis terangkat. Maksudnya?
Dia menggerakkan alis naik turun dan mengarahkan pandangannya ke tangannya yang terulur. Bermaksud memintaku menerima uluran tangan itu.
Dengan bingung, ku ulurkan balik tangan ku menerima ulurannya. Aku berdiri dan kami berhadapan. Aku menatap matanya. Dia menatap mataku. Seperti itu selama hampir seabad. Atau selama itulah yang aku rasakan. Rasa nyaman dan tidak nyaman yang menyatu seperti menggelitik. Namun aku tidak menarik diri. Membiarkannya melakukan hal itu – Membantuku untuk merasa lebih baik – siapa yang akan tau apa yang akan Ia lakukan.
Dia memutar tubuhnya dan dengan terus menggenggam tanganku, Ia mulai berlari. Membuatku mau tak mau berlari bersamanya.

” Aku ingin membuatmu bahagia.”
” Bagaimana caranya ?” tanyaku
” Apa yang kau suka?” dia bertanya balik.
” Berlari.” jawabku asal.

Dia berlari dan terus berlari. Sesekali menolehkan kepala untuk melihatku. Dia tersenyum, matanya terlihat geli. Karena itu, aku turut tersenyum. Merasakan angin yang melawan dorongan tubuhku. Merasakan hangatnya senja yang anehnya terasa menyejukkan. Dia berteriak.
” HEI KAU… APAPUN ITU…. PERGILAH JAUH-JAUH!!!!” dia menoleh kembali menghadapku. Masih tersenyum, namun kali ini matanya tidak geli.
Sesuatu yang terasa hangat mengalir di pipiku. Entah bagaimana, sesuatu yang kutahan dengan susah payah dibuatnya keluar begitu saja dengan mudah. Aku mulai menangis. Lalu meneladaninya aku turut berteriak.
“YA!!! PERGILAH!!! JAUH-JAUH!!! AKU BUKAN ORANG LEMAH KAU TAU!!!” entah pada siapa teriakan itu kutujukan. Namun setelahnya aku merasa ingin tertawa.
Merasa lebih ringan.
Aku melepaskan tawaku. Salah satu yang paling ringan yang pernah kulakukan. Dia ikut tertawa disampingku. Selalu begitu. Disampingku. Sekali lagi begitu. Menepati janjinya selalu. Sejak bertahun-tahun lalu. Berlari. Membuatku bahagia. Hanya seperti itu. Namun tetap, aku menangis pula ujungnya

 

 

ullyiz

Posted in me, random

Jatuh Cinta dengan Sederhana

Menulis itu sulit.
Tahukah kau betapa sulitnya?
Seperti berusaha mengukir kata di pantai dengan deburan ombak yang saling beradu mencapai daratan lebih dulu.
Belum selesai terangkai, bisa saja dia sudah terhapus.
Sering seperti itu.
Saking seringnya, mataku sampai berkantung.
Bahkan jika kau mau lebih jeli melihat, mungkin asap di kepalaku sudah mengepul gelap.

Dengan begitu akankah menjadikanku menyerah?
Lalu aku akan bertanya padamu, Haruskah??
Aku tak ingin menyenangkannya dengan menjadi demikian.
Aku ingin membuatnya sengsara karena ternyata aku terus membara.
Tidak pernah padam.

Kadang aku tinggi, Kadang aku rendah
Kadang aku Kuat, Kadang aku lemah
Kadang aku Kalah, kadang aku lawan
Kadang bahkan berada diantaranya
Dan diam-diam, tulisan membawa kedamaian.
Tak hanya itu, tapi juga kenangan.
Hingga kelak ketika kau senggang dan ingin sekilas melihat kebelakang, kau akan dapat tersenyum hangat.

Untukku, tulisan adalah sebuah mimpi.
Tak akan pernah lelah ku kejar. Karena tak pernah akan ada cara yang benar melakukannya…
Sebuah mimpi yang selalu membuatku membuka mata lebih lebar.
Sebuah mimpi yang mampu mengembalikanku pada diriku yang sesungguhnya tatkala ku suatu waktu kehilangan arah.
Walau sebenarnya tulisan tak akan pernah bisa lebih rumit dari dua insan yang jatuh cinta.
Ia sederhana.
Begitu sederhana. Namun membuatku terus jatuh cinta.

 

 

 

ullyiz

Posted in Poem

Ingin ku hentikan jalannya waktu
Selagi diriku berjalan di tengah hujan yang gaduh
Harus ku berbalik dan kembali, aku tau
Benci rasanya terus bimbang dan gamang

Ingin ku hentikan jalannya waktu
Sebagaimana marahnya diriku melihat punggungmu yang kaku menjauh
Justru ku berbalik dan bertekad takkan kembali
Bersama dengan hati yang sepertinya telah jauh pergi

Ingin ku hentikan jalannya waktu
Seperti teriakan dan penjelasan yang terus berdengung
Tanpa penyelesaian
Hanya berupa pengulangan

Ingin ku hentikan jalannya waktu
Saat kau hempaskan genggaman tanganku
Meskipun kau mengejar hujan sampai kering
Walaupun aku menerjang hujan tanpa berpikir

Posted in Poem

10 DETIK

Apakah tidak memiliki arti?
Semua waktu yang mengalir dibawah kaki
Mengantar kita ke setiap awal dan akhir
Menemani kita disetiap tawa tanpa henti

Aroma musim semi yang membuatmu teringat akanku
Pengapnya musim panas yang membuatku menghabiskan es krim milikmu
Angin musim gugur yang membawa langkahku menujumu
Udara musim dingin yang membuatmu merindukanku

Diatas semua yang telah kita lalui
Waktu yang selalu menyertai
Jika sesuatu membuatmu lupa suatu saat nanti
Waktu bahkan mungkin bisa menjadi saksi

Tapi apakah dari semua waktu-waktu tadi,
tidakkah ada yang memiliki arti?
Mengapa meski 10 detik saja yang dia miliki mampu mengubahmu seperti ini?
Mengapa walau hanya 10 detik saja aku tidak disisi, kau bahkan sudah begitu jauh pergi?

Aku melihatmu menjeritkan isi hati
Meneriakkan semua rasa frustasi
Menyalahkan waktu yang ku habiskan sendiri
kemudian mengakui bagaimana hatimu tak bergetar lagi

Mungkin memang sebaiknya kugenggam sendiri
Jika hanya dengan 10 detik cukup membuatmu meyakinkan diri
Bahwa tidak butuh waktu lebih dari seluruh umurmu sendiri
Untuk membuat sesuatu berarti melebihi semua tawa yang gemanya bahkan sudah terhapus pergi

Posted in Poem

Tak Mau Pulang

Kalau saja kopi itu memabukkan
Mungkin aku sudah dapat menghapusmu seutuhnya
Namun yang ada justru kebalikan
Aku terjaga. Tak peduli pagi menjelang

Seperti akan meledak
Tak bisakah kau mendengarnya?
Letupan yang terus mendesak
Kenangan yang terus menguap keluar.

Rasanya seperti aku ingin menghilang
Hingga semua tak ada yang dapat menemukan
Walau hanya sehelai rambut yg menjulang
Ya. Aku tak pernah lagi mau pulang

Posted in Poem

Sudah Cukup,

Mereka bertanya apa aku baik-baik saja
Padahal senyum ini membentang dengan jelas
Mereka bertanya bagaimana jika besok lusa sudah tak lagi terelakan
Sementara aku tak pernah ingin menerima kemungkinan

Tahukah kau akan sesuatu yang disebut keajaiban?
Jika kita terus melaju tanpa menuntut ini itu
Bukankah semesta yang justru akan berbalik memelukmu?
Apakah hal itu hanya aku saja yang tahu?

Aku tak ingin mengucapkan sepatah kata apapun lagi
Karena hanya dengan Ia mengingat satu hal itu saja buatku sudah sukup
Kurasa menatap dengan cara seperti ini saja sudah cukup
Ya. Aku hanya akan meyakinkan diriku kalau begini saja sudah sukup

Tidak peduli kalau kalian mampu melihat yang ku sembunyikan
Bahwa aku mungkin tak akan bisa menerima
Jika kutemukan diriku tidak baik-baik saja
Ketika esok lusa datang dan tak bisa kusambut dengan senyum girang

Sebab aku tak akan mengucapkan sepatah kata tambahan
Kalau memang sudah ditentukannya pilihan
Kalau memang esok lusa membuatku tak lagi terkenang
Aku hanya tinggal meyakinkan diriku bahwa begini saja sudah cukup dengan air mata tertelan

Posted in Poem

Gemerincing Angin Pagi Itu

​Kalau saja aku tak memulainya
Jika saja aku bahkan tak mempertimbangkannya
Seandainya saja aku melewatinya begitu saja
Gemerincing angin pagi itu

Bagaimana bisa aku begitu tega
Sementara kau memohon dengan mata penuh harap
Bagaimana bisa aku tak mengindahkannya
Sementara gemerincing angin itu yang selalu mewarnai hariku yang gelap

Jalan membuatku berhenti disebuah perempatan
Aku, yang biasanya hanya suka menikmati dari atas jembatan
Bagaimana bisa berdiri disini terasa begitu bising
Sementara jika diatas sana semua terasa begitu hening

Haruskah kulangkahkan kakiku hingga perempatan ini menjadi lalu?
Namun mengapa untuk mengangkat kaki saja terasa seperti melakukan dosa yang tak terampuni?
Jika aku tetap berdiri saja disini,
Apakah gemerincing angin itu akan pergi?

Apakah aku begitu berarti? Meskipun Ia begitu mudah dicintai
Hujan turun bersama dengan tubuhku yang berpaling
Melenyapkan suara gemerincing dan menghentikan hembusannya berkeliling
Jika mendekat terasa seperti dosa besar, berpalingkah jawaban paling benar?

Line by ullyiz

Posted in Uncategorized

Bagaimana jika pertanyaan terbesarnya bukanlah untuk apa kita hidup,tapi bagaimana kita hidup?

Just one day – Gayle Forman

Posted in random

Aku Yang Sama

Ketika ku menonton film dengan intrik sederhana namun memiliki impact yang hebat, rasanya seperti ada sesuatu yg menjalar didadaku. Terasa hangat, namun juga sesak.

Seperti menyeka debu pada buku-buku lama lalu membaca isinya dari awal secara perlahan, aku mulai mengingat masa-masa dimana dengan percaya diri aku menyatakan bahwa hidup ini adalah milikku. Dan ini adalah aku.

Aku menunduk dan membawa kerikil kecil itu bersama langkahku. Ada apa ini? Waktu menyeretku begitu jauh dan menjadikanku penuh peluh yang tak terlihat.

Seperti pemutar film, adegan demi adegan bergerak dengan jelas dalam benak. Senyum itu, tawa itu, seruan riang itu. Bisa ku katakan tak ada yang dapat menandingi betapa hebatnya waktu-waktu itu.

Jika kau melihat aku sekarang, dapatkah kau melihat perbedaannya?? Atau sebenernya semua tetap sama?? Apakah aku tetap sama??

Ya aku tetap sama. Meskipun aku tak lagi dapat mengatakan dengan lantang bahwa hidupku adalah milikku. Ini adalah aku. Karena aku memilikimu. Karena ini tak hanya aku.