Posted in Poem

Tidak Peduli

Kuhembuskan napas dan terus melangkah

Batapa lucunya,,

Bahkan segala disekitarku tetap bersemangat

Seolah bahagialah yang pasti dirasakan semua tempat

Membuatku mengasihaninya

Membuatku mengikutinya diam-dian

Mungkin semua pantas mendapatkannya

Dan aku, adalah satu-satunya pengecualian

Dengan sejuta rasa yang tak dapat tersampaikan

Semua tampak tak memperhatikan

Bahkan langitpun turut tak peduli

Berhari-hari sibuk menumpahkan air ke bumi

Tanpa memperhatikanku yang tak punya payung lagi

Hujan yang tak berperasaan ini kutembus dengan berlari

Ikut tak peduli, ku ingin terlihat seperti menari

Namun seperti terhipnotis aku justru menangis

Harus seperti apa agar aku terlihat seperti tersenyum manis??

Posted in Poem, short story

Lilin

Seperti angin yang berhembus dan menghangatkan hatiku

Seperti api yang membakar semangatku dan membuatku terus melaju

Seperti air mengalir yang membuatku merasa lebih hidup

Seperti itu pula kelak aku akan datang dalam setiap hari-harimu

Aku tak tau apa yang membuat semua menjadi semudah ini

Ketika kemarin semua terasa begitu melelahkan

Saat ini rasanya aku bisa beristirahat

Ketika kemarin setiap jengkal cerita terus menghantui tanpa pernah bisa berhenti

Aku ingin menikmatinya, setidaknya sedikit lebih lama lagi

Aku bahagia

Karena hari ini begitu indah

Karena hari ini tidak begitu indah

Karena hari ini biasa saja

Aku bahagia

Rasanya seperti telah membuang banyak waktu dengan sia-sia

Merutuki diri dan merenungi semua hal lalu yang tidak berguna

Hanya seperti ini, dan terus mencari yang akan membuatnya berakhir

Sampai ada yang meniup lilin itu namun membuat terang hatiku

Membuatku takut dan senang secara bersamaan

Membuat jantungku melompat-lompat antara bumi dan langit

Bagi seseorang yang mampu menjadi angin, api, dan air

Dalam hidupku yang selalu abu-abu

Ketika hanya tinggal tersisa satu lilin lagi

Aku tersadar akhir itu tak akan lama lagi

Akhir yang ku tunggu sejak waktu-waktu yang lalu

Akhir yang justru tiba ketika aku mulai menikmatinya

Aku bahagia

Karena hari ini begitu indah

Karena hari ini tidak begitu indah

Karena hari ini biasa saja

Aku bahagia

Jangan teteskan air mata itu lagi

Teruslah tersenyum sehangat mentari

Teruslah menari seanggun daun gugur di musim semi

Aku tau, jadi tak usah kau teriakkan lagi

karena aku bahagia

Karena hari ini begitu indah

Karena hari ini tidak begitu indah

Karena hari ini biasa saja

Aku bahagia

Sebab walau berakhir aku akan tetap berjanji padamu

Bagi seseorang yang mampu menjadi angin, api, dan air

Akupun akan selalu datang bersama hujan, salju, dan sinar mentari.


Inspired by Korean Drama : Goblin : the lonely and great God.

Kim Shin to Ji Eun Tak.

 

Posted in short story

a cup of coffee latte #4

—–Agha point of view—–

Entah apa yang merasukiku pagi ini. Dibawah langit yang sendu dengan sinar matahari yang terasa lebih bersemangat dari hari-hari biasanya. Ditambah rintik hujan  yang anehnya membuatmu lebih bertenaga di awal minggu yang banyak dibenci orang, membuatku mengemudikan mobilku tanpa sadar ketempat ini.

Kuhentikan langkahku dan berpaling memandangmu, tanpa bisa kutahan senyum ini terukir dibibirku. haaaaa… akankah semua itu terulang lagi dan berakhir menjadi lebih baik? dengan diriku yang tanpa berpikir dua kali bertingkah seperti ini, apakah berarti aku sudah memulainya lagi?

Tahukah kau kalau aku akan selalu berada disisimu? bahkan diwaktu kita terpisah beberapa tahun ini, aku selalu berada disisimu. Jika tidak, bagaimana mungkin kita bisa bertemu lagi dengan cara seperti hari itu?

Andai saja kau tau, aku juga selalu berdiri tepat dibelakangmu. Ketika kau merasa ragu atau sedikit takut, kau bisa berbalik sebentar dan kau akan menemukanku tepat dibelakangmu, menyambutmu dengan senyum terbaikku dan menyemangatimu. sehingga kau tidak perlu ragu ataupun merasa takut lagi.

Seperti saat ini, jika saja kau mau menoleh sedikit selagi sedang menunggu pintu lift itu terbuka maka kau akan menemukanku. kau akan menemukanku berdiri ditengah hujan sambil tersenyum-senyum bodoh tanpa menggunakan payung. Padahal salah satu tanganku menggenggamnya erat disamping tubuh.

 

 

Posted in Poem, short story

Sandiwara

Berlarian seolah ini adalah hal yang menyenangkan.

Tertawa terbahak seolah ini adalah hal terlucu yang pernah kau alami.

Kau melihatku dan tersenyum menenangkan.

Aku memperhatikanmu dan terpaku ditempat.

Bukan karena aku terpana.

Tidak. Bukan karena itu.

Melainkan karena kau penuh tanda tanya.

Berjalan seolah setiap langkah terasa begitu berat.

Tersenyum tipis seolah semua ini patut untuk dikasihani.

Kau memandangku dengan tatapan mata yang sulit dimengerti.

Aku melihatmu dan tersenyum lebar seperti orang bodoh.

Dan kau… Kau terus mengulur waktu.

Tanpa kusadari perlahan jarak itu sudah terbentang

Benar-benar menyakitkan untuk kuakui bahwa tembok itu sudah lama tinggi membatasi

Sudah begitu lama suaramu tak terdengar.

Padahal kau didepanku

Padahal kau dihadapanku

Namun merengkuhmupun aku tak mampu

Laksana bayangan, atau bisa juga bintang diatas sana.

Jika terus begitu, kau tak akan tau.

Jika terus begitu, aku tak akan tau.

Jika terus begitu, kita tak akan pernah tau.

Posted in short story

Kembali Berakhir #3

​Dan sepertinya disinilah akhir jalanku. Karena disana, beberapa meter dihadapanku. Ya disana, sosok yang tertinggal itu, sosok yang membuatku kembali itu berjalan kearahku. Dengan senyum lebar aku meyakinkan diriku bahwa titik awal inilah yang ternyata juga merupakan titik akhir bahagiaku.

Tak banyak berubah. Masih sosok yang sama. Rambut panjangnya terurai indah diterpa angin senja yang hangat. Dia melipat lengannya di dada. Apakah dia kedinginan? 

Sungguh tak ada satupun yang berubah. Kebiasaan yang sama. Namun mengapa terus kau tundukkan kepalamu? Menataplah kedepan. Sebab aku disini. Dihadapanmu.

Tunggu, jika kau melihatku, akankah kau menyunggingkan senyum yang sama? Akankah kau juga berlari-lari kecil kearahku dan menyambutku dengan hangat? Ayolah, lihatlah aku dan datanglah kesini. Aku disini. Begitu dekat.

Aku disini. Siap untuk kembali. 

—————–

Ya… Lupakan saja. Karena walau kali ini aku kembali, namun itu untuk mengakhiri.
Ehm ehm… Ayolah. Tegakkan bahumu dan lihatlah kedepan. Aku bisa. Aku akan bisa melewati semuanya seperti yang sudah kulakukan sebelumnya.

Dan ternyata disinilah ujung jalan itu berada. Tak jauh didepanku. Kutemukan tepat ketika aku kembali untuk mengakhirinya. Ya disinilah aku kembali.

Dia tersenyum. Bagaimana Ia bisa tersenyum?

Tidak. Akupun bisa tersenyum. Bahkan dengan senyum lebih dari itu. Dia telah kembali. Ujung jalanku telah menemukanku.

Tidak salah lagi. Disinilah tempat aku benar -benar akan mengakhirinya. Ketika dia kembali.

Berdiri tegap tak jauh dari tempatku, ia merentangkan tangannya. Ia ingin aku datang. Dan akupun berjalan kearahnya. Namun maaf, karena aku bukan datang dan kembali.

Aku kembali untuk mengakhiri.

Posted in short story

Kembali #2

Apakah kau pernah menginginkan langkahmu nanti berujung pada akhir yang bahagia?? Hingga kau selalu berlari berlari dan berlari untuk mengejar akhir itu. Bahkan kau rela membuang banyak hal untuk itu. Termasuk membuang seluruh hidupmu dan menelan pahitnya diam-diam. Namun sayangnya, betapapun jauhnya kau telah berlari, betapapun lamanya kau telah berlari, akhir jalan itu tetap tak terlihat. Dan rasa-rasanya kau belum juga beranjak dari tempatmu memulai.

Bukankah ini lucu? Aku berkata bahwa rasa-rasanya aku belum pernah beranjak dari tempatku memulai. Namun ketika ku berhenti dan melihat sekeliling, aku bahkan tak mengenal apapun lagi. Tempatku memulai?? aku bahkan tak tau dimana itu berada. akan lebih tepat mungkin jika kukatakan tempatku memutuskan untuk membuang semuanya dan menelan pahitnya diam-diam. Tempat dimana aku memutuskan untuk berbalik pergi dan tak menoleh lagi. Seberapa tuluspun seseorang berharap agar aku tetap tinggal. Seberapa keraspun seseorang meneriakkan satu kata yang tak akan ada balasannya. kalaupun memang ada, aku tak akan mengucapkan apa-apa.

Ya… tempat itulah yang ada. Disini. Tempatku berdiri sekarang. Tempat dimana aku akan kembali.

Bukan karena aku lelah berlari dan ingin sejenak beristirahat. Namun karena seberapa jauhpun aku berlari, akhir yang kuimpikan itu tak juga kunjung terlihat. Juga karena aku selalu merasa ada yang tertinggal. Sekeras apapun ku coba meyakinkan diriku sendiri kalau apapun hal yang tertinggal itu tidaklah penting. Apapun yang ku usahakan untuk menyingkirkan perasaan aneh yang menggorotiku itu tetap saja tak ada berguna.

Kesimpulannya tetaplah membuatku berdiri lagi ditempat ini. Tempat yang dipenuhi kenangan yang entah apa namun terasa menyesakkan. Tempat yang selalu menghantuiku entah karena apa. dan yang jelas, tempat dimana sesuatu yang tertinggal itu berada.

Ya.. disinilah sekarang aku. berusaha kembali untuk memulai lagi.

Kususuri jalan ini berharap menemukan sesuatu yang tertinggal itu. Sesuatu yang seharusnya terus bersamaku. Ditemani oleh hembusan angin yang hangat ini, tempat ini terasa menyesakkan dan anehnya membuat tempat ini terasa sebagai tempat yang benar. Tempat dimana seharusnya aku berada.

Apakah sesuatu yang tertinggal itu masih berada disekitar sini? atau apakah ternyata sudah dimiliki orang lain? maafkan aku jika aku membicarakannya seolah-olah kau adalah barang atau apa. aku yakin kau tak akan mau berjalan disampingku lagi jika kau mendengar semua yang kukatakan barusan. Tapi mungkin, tanpa mendengar semua itupun kau memang tak ingin kembali.

Tanpa tau arah yang tepat aku terus saja berjalan. Seolah diriku mengenal tempat ini dengan sangat baik. Seolah ada yang menuntun tubuh ini menuju tempatmu berada.

Ya… memang itulah alasanku kembali. Menujumu. Dan memulai semuanya dari awal lagi.

Dan sepertinya disinilah akhir jalanku. Karena disana, beberapa meter dihadapanku. ya disana, sosok yang tertinggal itu, sosok yang membuatku kembali itu berjalan kearahku. Dengan senyum lebar aku meyakinkan diriku bahwa titik awal inilah yang ternyata juga merupakan titik akhir bahagiaku.

Posted in short story

Akhir #1

Jika saja kau bisa mendengar suara hatiku, mungkin saat ini kau akan berteriak didepanku dan berkata, “bisakah kau hentikan semua omong kosong ini? tidak bisakah kau melepaskan semuanya saja?? melepaskanku. dan berhentilah! kumohon berhentilah mempertanyakannya karena aku yakin kau sudah tau apa jawabannya.”

Lalu setelah itu kau akan berbalik dan pergi. Tanpa pernah melihat kebelakang lagi. Dan aku akan tetap disini. Tertinggal disini. Berusaha keras untuk terus menahan bahkan walau hanya bayanganmu. Agar tetap tinggal. Agar tetap disini. Bersamaku.

Seperti saat itu, saat terakhir kali kau dan aku duduk berhadapan tanpa menatap satu sama lain. Ketika kau terus berbicara dan aku terlihat hanya mendengarkan. Saat itu, aku tidak benar-benar mengingat apa-apa yang kau ucap. Karena aku sibuk membujuk bayangmu untuk tinggal. Karena aku terlalu keras kepala dan hanya meneriakkan satu kata itu didalam kepalaku saja.

Bukankah aku terdengar begitu menyedihkan. Bahkan hujan yang terus turun dihari-hari itu tak mampu menghiburku. Angin yang berhembus dan seharusnya menghangatkanpun tak dapat membantu banyak. Mereka justru memperburuk suasana. Memaksaku untuk mengeluarkan saja semuanya hingga menjadi setengah gila.

Bahkan sore ini, aku masih belum berhenti mencegahmu untuk benar-benar pergi. Aku kembali lagi. Menyusuri jalan-jalan penuh kenangan ini. meskipun telah bertahun-tahun, namun terasa sama. Seperti semuanya baru saja terjadi kemarin. Tetap sama. Tetap menyakitkan. Tetap menghangatkan.

Ya… disinilah aku kembali lagi. Namun kali ini untuk mengakhiri.

Bertahun-tahun berusaha Ku tuangkan semuanya dalam lembaran-lembaran yang akan segera berubah menjadi debu. Melepas belenggu agar dapat terbang bebas lagi. dan bertahun-tahun itu pula, tak satupun kata yang mampu tertuang untuk melepas semua jeratan ini. dan parahnya, tak ada satupun orang yang dapat membantuku terlepas dari ikatan ini.

Ku susuri jalan tak berujung ini lagi. ditemani hembusan angin yang terus mengingatkanku akan hadirmu. berharap ketika jalan ini berakhir nanti, disitulah ikatan itu akan terlepas dan aku akan terbebas.

Ya… disinilah ku susuri jalan ini lagi, hingga semua benar-benar berakhir.

Lupakan saja ketika khayalanku yang liar terus menggambarkan dirimu yang suatu hari akan berpapasan denganku dijalan-jalan ini. Lupakan saja diriku yang tak henti-hentinya membayangkan bahwa kau suatu hari akan kembali dan menyusuri jalan ini lagi untuk menemukanku. Untuk kembali padaku.

Ya… Lupakan saja. Karena walau kali ini aku kembali, namun itu untuk mengakhiri.

Posted in Poem, short story, Uncategorized

Ingatan yang Kembali

Ingatan itu kembali

Tak peduli seperti apapun ku rubah posisi tidurku

Ingatan itu kembali

Aku harus menangis

Ya menangis

dan terus menangis

Hati itu pergi

Semakin lama semakin menjauh

Namun ingatan itu kembali

Semakin lama semakin jelas bahkan terasa seperti kemarin

Malam yang semakin larut

Mata yang semakin membengkak

Hidung yang semakin memerah

Hanya aku sajakah yang seperti ini?

Ingatan itu kembali

Tak peduli meskipun aku sudah mencuci wajahku berulang kali

Tak peduli berapa banyak pil tidur yang sudah ku minum bermalam-malam ini.

 

Posted in me, Poem

Luapan Bahagia

Terasa seperti mimpi buruk

Rasa bahagia yang meluap-luap ini

Haruskah aku menampar wajahku sendiri?

Atau, maukah kau melakukannya untukku?

Agar aku segera bangun maksudku.

Sebelum aku terbiasa

Sebelum aku ingin terus tinggal

Sebelum ada yg tersadar, bahwa seharusnya bahagia ini milik yg lainnya.

Sebelum egoku menahan untuk melepasnya

Terasa seperti mimpi buruk

Rasa bahagia yang meluap-luap ini

Hingga walaupun berat, rasanya sanggup membuatku terbang.

Hingga meskipun menyakitkan, rasanya cukup untuk membuatku tertawa lepas.

Sebaiknya aku tenggelam saja,

atau berusaha menuju kepermukaan saja?

Agar aku dapat segera terbangun maksudku

Sehingga takkan ada yang merasa bahagianya terenggut.

Dan takkan ada yang berusaha merenggutnya,

Rasa bahagia yang meluap-luap ini.

Posted in short story

A Cup of Ice Latte #3

Matahari menyapa lebih cepat pagi ini. Membuatku berhenti hanya untuk mengecek jam tanganku yang lensanya sudah dibasahi beberapa titik air hujan.
Aku menghembuskan nafas lega. Masih cukup waktu sebelum jam kantorku. Banyak sekali jadwal hari ini. Jadi aku tidak boleh terlambat sedetik pun agar semuanya berjalan dengan baik.
Apakah aku terdengar berlebihan. Oh ayolah, tidak seaneh yang kau dengar. Sungguh.
Aku beringsut maju seolah badanku setipis kertas. Pemberhentianku di halte selanjutnya.
Pagi ini begitu menyebalkan. Apakah aku terdengar menggerutu? Ya tapi itu sungguhan. Aku benci hujan yang turun dipagi hari ketika aku harus bertempur-bersama orang-orang lainnya ke tempat kerja. Umm, aku tidak benar-benar membencinya. Aku hanya tidak cukup menyukainya. Aku benci dingin kau tau. Uuuhhhhh, aku tidak menyukainya meskipun aku tak akan bisa tidur tanpa pendingin ruangan yg dinyalakan dan dengan suhu yang cukup rendah.
Apakah aku terlalu banyak menggunakan kata negatif. Oke baiklah, mari sudahi semua gerutuan ini. Aku tidak akan merusak hari ini terlalu dini. Karena sesungguhnya aku sungguh bersemangat hari ini. Aku sangat menyukai hari yang akan terasa sangat sibuk dan aku tetap akan berusaha pulang tepat waktu sehingga waktunya dapat ku manfaatkan untuk kegiatan menyibukkan lain yg bersifat pribadi. Dan apakah sekarang aku jadi terdengar tidak konsisten?? Membencinya lalu menyukainya. Bukankah itu alami??
Aku merapatkan jaketku dan memastikan hoodyku benar-benar membalut kepalaku. Ummm, aku tidak benar-benar memerlukan payung. Jarak dari halte ke kantorku tidak begitu jauh, dan hujan tidak turun terlalu deras. Mungkin sedikit basah akan membawa dampak baik bagi hariku.
Aku berlari-lari kecil dan merasakan beberapa orang didekatku ikut berlari. Hei sepertinya hujan sudah berhenti.
” apakah kau berencana terkena flu setelah pagi ini?” Umm… kalimat yang kaku, siapa yg berbicara seperti itu kepada……..
Aku menengadah dan butuh waktu cukup lama untukku tersadar. Ia menjentikkan jarinya di depan wajahku dan aku menyadari aku sudah berhenti berlari-lari kecil.
Ternyata hujannya belum berhenti, itu hanya… hanya karena ada payung yang melindungiku dari rintik hujan.
” oh hai, apakah ini kejutan?” Aku menjawab sama kakunya. Tersenyum canggung dan berharap tidak akan terlihat secanggung itu. Dia masih memayungiku, namun senyum yang lebih lebar tersungging dibibirnya.
” kenapa?” Bingung sendiri dengan ekspresinya. Dan ia menggeleng. Melanjutkan langkah jadi aku mengikutinya. Menuju lobi kantorku.
Pagi ini Ia mengenakan sweater biru dongker, tampak basah dibeberapa bagian karena payungnya hanya memayungiku.
” sudah sampai…” Ia berhenti dan menutup payungnya. ” aku sudah menduga kau takkan membuka payungmu padahal kau membawanya kemana-mana. “Tugasku selesai. Aku pergi dulu. Semoga harimu menyenangkan Rayya.” Ia membalikkan punggungnya. Lalu berlari dengan menenteng payungnya dan membiarkan sweaternya semakin basah. Aku tidak sempat merespon apapun. Mungkin dia akan berpikir aku bodoh atau semacamnya karena berekspresi tolol begini. Biarkan saja. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dan membalikkan badanku menuju lift. Mari selesaikan semuanya hari ini~~