Posted in me

Semakin lama ku berjalan, semakin pula ku kehilangan arah

Semakin lama ku berlari, semakin pula ku merasa ingin menyerah

“Tidak. Tidak, jangan!! Kau harus kuat ” itulah yang terus kuteriakkan dalam benak.

Dulu itu selalu berhasil. Tapi sekarang, tergantung keberuntungan yang kupunya hari itu sepertinya.

Aku bukan orang lemah yang harus selalu beriringan dengan yang lainnya. Justru aku lebih sering terlihat sendirian. Tapi itu bukan berarti aku menyukainya.

Karena Ia akan menolak ketika ku ingin memeluknya. Karena Ia akan berdiri ketika ku ingin sedikit bersandar. Karena Ia akan pergi dan menjauh. Karena itu… Karena itu…

Ketika ada yang datang aku akan tersenyum lebar menyambutnya. Tapi jika memang sudah waktunya tuk pergi dan berpisah, jangan katakan kalau kau akan pergi dan menghilang. Katakanlah kau akan kembali dan sudah pasti aku akan tetap disini…

Pahit yang pernah terjadi bisa membuatmu kuat atau justru mati rasa. Bisa juga membuatmu menutup semua pintu karena ketakutan. Aku semuanya.

Bahkan rumput liar yang tak dapat diaturpun bisa menguning layu kemudian mati. Begitu juga para pejiwa muda yang beranjak menua setiap harinya, mereka berubah menjadi pengecut yang takut akan banyak hal.

Seseorang dimasa lalu berkata bahwa aku terlalu berlebihan dan memuakkan. Tapi aku hanya tersenyum. Aku tau dia  hanya sedang berusaha mengusirku. Membuatku bertanya, apakah aku seberlebihan dan memuakkan itu??

Seseorang dimasa lalu membuatku membuang prinsip dan meruntuhkan benteng kokoh yang kubuat. Aku diam saja. Aku tau dia berusaha menarikku masuk. Membuatku bertanya apakah aku sekaku itu??

Sebenarnya kau hanya perlu tersenyum dan menerima ku. Kau hanya perlu tersenyum dan percaya padaku. Kau hanya perlu tersenyum dan menggenggam tanganku. Kau hanya perlu tersenyum dan membuatku percaya padamu. Tanpa berkata apa-apa. Tanpa berkata apa-apa dan aku akan tau, aku akan mengerti…

Aku menunggu dan aku ragu.

Perhitungan semu. Pikiran-pikaran yang tak tentu.

Tak mudah mempengaruhiku sejauh itu. Karena semua tertutup. Karena semua ini telah kubangun ulang. Karena semuanya lebih kokoh dari sebelumnya.

Aku tak mampu melihatnya dan aku masih belum mempercayainya. Apakah aku akan menyesal? Itulah yang mereka semua takutkan. Padahal mereka pun tak mau karena takut semuanya runtuh dan hancur lagi.

Aku bukan pendusta yang bisa membohongi hatinya dengan mudah. Tapi aku juga bukan orang munafik yang bisa mengingkari logikanya begitu saja. Berpacu dan berpacu bahkan terpejampun aku tak mampu.

Ketika semua membeku dan ketakutan menjadi pembantu. Kau pasti tahu yang mana yang terpilih oleh ku antara dua hal itu.

Bukan tentang mu tapi tentang ku. Bukan tentang cerita pelengkapmu tapi tentang hal-hal yang pernah terjadi padaku.

Sungguh aku benci akan hari yang menuakan diri. Mebuat kuat semua rasa takut dan pengecut diri. Kemudian aku harus apa lagi??

Seseorang yang setia berharap agar keduanya tidak menyerah. Tapi sebenarnya apa yang sedang diperjuangkan? Apa yang sebenarnya sedang dipertahankan?

Ketika bintang tak mampu menunjukkan arah dan dinding tak mampu lagi jadi tempat bersandar. Bersujud adalah hal yang benar. Tapi bukankah tetap harus ada yang diusahakan?bukankah tetap  ada yang harus diperjuangkan??

Siapa yang akan melakukannya? Siapa yang akan mengusahakannya?? Siapa yang akan memperjuangkannya??

Ketika tidak ada yang yakin. Ketida tidak ada yang merasa itu adalah hal yang penting. Setidaknya seperti itulah yang terpikir.

Atau haruskah ku meneriakkannya saja? agar semua jelas dan tak ada lagi tanda tanya. setidaknya dari sisiku.

jawabannya mungkin sudah terlontar. tidak. jawabannya memang sudah terlontar. ku buang hati dan mengerti logika diri. bukan berarti tak berhati karena diam-diam aku masih menunggu tanpa henti. kau mendengarnya?? karena tanpa bertanya pada harga diri aku mengakuinya. taukah kau apa artinya…

aku hanya takut semua bersisihan tanpa saling menyapa dan bersalaman. bayangan yang menakutkan.

Waktu yang membuat semuanya tidak pernah sama. Realita yang membunuh segala jenis idealitas dan membinasakan pemujanya. Jika saja idealitas tak tertentang. Seandainya realita dan idealitas dapat berjalan bergandengan. Mungkin saja tidak akan ada jiwa yang ketakutan dan terpenjara ditengah keramaian.

Aku tidak akan peduli jika mereka menertawaiku. Tapi aku akan menangis tak henti jika mereka terbebani karena ku.

Tutup matamu dan dengarkan,, apakah aku seburuk itu?? Apakah benar aku tak berhati seperti itu?? Hallo… Apakah kau benar-benar mendengarkanku??

Satu kesalahan yang memakan sepuluh kebaikan. Bisakah sedikit saja emosi itu ditinggalkan?? Aku mohon.. Tatap mata ku dan dengarkan seluruh isi hatiku. Kau yang kuperjuangkan senyum dan bahagiannya… Harus ku berteriak seperti apa lagi ?harusku menulis seberapa panjang lagi?

Aku akan menyambut hangat kedatangan dan akan dingin terhadap perpisahan. Jadi tinggalah disini dan ubah aku agar menjadi yang lebih baik. Kemudian kau akan menjadi istimewa dan hadir dalam setiap doa.

Aku terus berlari

Tapi seperti penyakit yang mematikan, ketakutan itu tidak mau hilang.

Kakiku dan tubuhku penuh luka yang sulit disembuhkan.  Sangat berlebihan memang.

Karena itulah aku ingin berhati-hati. Takut melukainya juga. Takut keberuntunganku yang buruk ini ikut melukainya.

Orang-orang yang kuperjuangankan senyum dan bahagianya.

Author:

just an ordinary girl who try hard to find herself

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s