Posted in me, Poem

tentang angin dan dedaunan

Aku berlari berharap dapat mengejar laju angin yang berhembus diam-diam.

Tapi dedaunan melaju lebih kencang dan dirikupun tertinggal jauh dibelakang.

Aku berhenti perlahan, Mengapa kaki ini enggan menapak seberapapun aku berusaha??

Berlutut. Aku berlutut dan diejek debu yang terbawa bersama angin yang terkejar dedaunan.

 

Aku menunduk. Diam. Dan memandangnya.Ku amati wajah teduhnya yang sedang terlelap.

Akankah ku dapat melihat senyumnya?? Senyum dari wajahnya yang selalu dapat mendamaikan hatiku itu.

Akankah ku dapat membuat senyumnya?? Agar ku bisa turut menjadi damainya.

Hah. Siapa sebenarnya yang menuangkan air kemataku??

Aku diam. Hatiku berontak ingin memeluknya tapi aku hanya diam.

Memandangnya dan tak bergerak.

 

Tak henti-hentinya ku torehkan tinta dikertas putih ini

Tapi kenapa senyum itu tak juga terlukiskan?

 

Sejenak ku berhenti dan bertanya dalam hati.

Aku semakin kuat dan melemah secara bersamaan.

Tapi aku tetap berlari walau lagi akan berhenti ditempat yang sama.

Tapi aku tetap berlari meskipun batu-batu itu terus menghadangku dan membuatku terjatuh.

 

 

Jika ku tunjukkan semua luka ini akankah kau percaya padaku?

Aku tidak akan pernah berhenti meskipun seperti debu-debu itu hujan juga ikut turut mengejekku.

Jika ku simpan semua luka itu hanya untukku dan tersenyum dihadapanmu, akankah kau datang juga dengan senyummu lalu  memelukku ?

 

Kau tahu, dahan yang terlihat paling kuat adalah dahan yang paling lemah jika tertiup angin.

Pohon yang paling berpengalaman pun adalah yang paling rentan tumbang.

Selemah daun kering yang bertebaran di tanah tatkala musim semi datang.

 

Aku ingin berhenti tapi aku harus terus dan tetap berlari bukan??

Kadang aku bertanya bolehkah ku berhenti sejenak lebih lama dari biasanya?

Akankah itu membuatku lebih jauh tertinggal?

Akankah itu membuat ku gagal untuk menggambarkan senyumnya?

Akankah itu membuatku harus berlari lebih lama lagi?

 

Tersenyumlah padaku dan aku akan tetap dengan tegap berdiri

Peluk aku dan ku akan tetap berusaha dengan sepenuh hati

Percaya padaku ku mohon agar ku dapat terus dan terus berlari

Hanya demi satu senyum itu. ya demi satu senyum itu.

Author:

just an ordinary girl who try hard to find herself

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s