Posted in short story

A Cup of Ice Latte #2

Aku baru selesai memesan ketika ponselku berdering.
” hallo mit” Tanpa perlu melihat lagi aku tahu persis siapa yang menghubungiku. Dia mengoceh panjang kali lebar tentang aku yang takkan menyesal kalau datang dan berbagai hal lain yg berhubungan dengan blind date ini. Aku hanya berdeham untuk menanggapi.
” ice lattenya kak.” Suara pelayan didepanku membuatku menoleh kedepan sebentar. Kuanggukan kepala sebagai tanda terimakasih lalu mengambil pesananku dan berjalan kemeja. Masih sambil menempelkan ponsel ditelingaku. Mitta masih nyerocos diseberang sana.
” ngomong-ngomong siapa namanya?” Kali ini aku menyela cerocosannya. “Siapa namanya?”  Kuulangi pertanyaanku. ” lo sama sekali belum pernah menyebut-nyebut namanya sama sekali.”
” apa itu penting?” Tanyanya balik.
Aku berniat menjawabnya ketika aku tersentak menahan langkahku karena ada gerakan tiba-tiba dari seseorang yang entah darimana tau-tau berpapasan denganku. Bukan berpapasan tapi hampir bertabrakan.
“Maaf-maaf. Saya tidak sengaja. Tidak apa-apa kan?” Aku sibuk memperhatikan tumpahan ice latte ku yang bercecer kemana-mana termasuk ke bajuku.
” saya benar-benar minta maaf. Anda tidak apa-apa kan?” Ia mangulangi permintaan maafnya. Dan aku tetap tidak memperhatikan. Sibuk dengan bajuku- baju mitta yang terkena cipratan latte.
” berhubung itu bukan hot coffe jadi tidak mungkin ada luka bakar. Oke. Bagaimana kalau saya gantikan saja minuman anda. Boleh tau itu apa?” Wow, sangat terkesan mendengar kata-katanya. Atau lebih tepatnya, merasa sebal?? Kalimat itu lebih terdengar seperti ejekkan ditelingaku.
Aku mengangkat kepalaku dan mengalihkan perhatian ke laki-laki didepanku ini. Ke laki-laki menyebalkan ini.
” minuman tadi itu apa? Biar saya gantikan?” Ujarnya mengulangi. Apakah ekspresiku tidak terlihat seperti sedang marah baginya? Aku mengernyitkan dahiku. Wajahnya tidak asing.
” kak agha?” Suaraku parau. Lebih terdengar seperti bisikkan.
Ia memperhatikan. Lalu satu sisi bibirnya tertarik keatas. Seperti tersenyum. ” ku pikir kau tidak mengenaliku lagi.” Katanya santai.
Ia kembali dengan membawa ganti minumanku yang jatuh tadi disatu tangannya, dan sepertinya minuman untuk dirinya sendiri di tangan satunya.
Aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku. Aku berani bersumpah pasti terlihat begitu jelas dimatanya. Perasaan ini, perasaan yang entah bagaimana cara untuk mendeskripsikannya.
Ia duduk dengan santai, lalu menggeser minumanku ke sisi meja terdekat denganku. Ia menyesap kopi panasnya yang tercium seperti Americano. Sudah pasti americano sebenarnya dengan warna sehitam itu. Terlebih itu adalah kopi favoritnya kalau sedang berkunjung ke kedai kopi seperti ini.
Namanya Agatha Reza. Seperti yang pastinya sudah kalian simpulkan, aku mengenalnya. Cukup mengenalnya. Sangat mengenalnya.
“Aku lega sekali ternyata kau masih mengingatku.” Ia menunduk memandangi cangkirnya dan mulai bicara. Aku mengangkat kepalaku dan memandangnya. Berusaha menyembunyikan satupun isi hatiku agar tak nampak diwajah.
” hai, apa kabar rayya? ” lanjutnya ragu-ragu. ” maafkan aku atas hal barusan, aku tidak bermaksud merusak segalanya di awal reuni kecil kita.” Ia menggaruk kepalanya kikuk.
” kak agha kenal Mitta?” Aku merutuki diriku yang tidak bisa basa-basi diwaktu seperti ini. Setidaknya, demi kesopanan. Aku harus terlihat seolah semua baik-baik saja. Kita baik-baik saja. Hanya teman lama yang bertemu kembali setelah beberapa tahun.
” minumlah dulu rayy, sambil kau minum aku akan menjawabnya.” Senyumnya hati-hati namun terlihat tulus. Membuat hatiku sedih. ” Mitta adalah teman dari temanku. Mereka berdua yang merencanakan ini, bukan aku yang minta kalau aku boleh menjelaskan.” Ia tertawa kecil. “Awalnya aku enggan, tapi mereka menyebut namamu. Sebenarnya aku benar-benar tidak yakin kalau itu benar- benar dirimu. Lalu aku menanyakan nama lengkapmu dan kupikir, kupikir tidak ada salahnya. Siapa tau keberuntungan ada padaku.” Kata-katanya mengalir begitu cepat. Aku bisa melihat bagaimana ia sangat antusias. “Maaf, aku terdengar terlalu cerewet bukan.” Berusaha menenangkan dirinya
” kak…” dia menoleh. Memandangku lebih lekat ” bisa tidak kalau tak akan ada kata maaf keluar dari mulutmu lagi sampe akhir hari ini? Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Hanya tidak terlalu nyaman dengan cipratan latte dimana-mana seperti ini.” Kutunjukkan beberapa titik noda di bajuku. Dia tersenyum. Aku lega. Setidaknya aku ingin dia melihat bahwa aku, meskipun tidak merasa begitu senang, tapi tidak juga merasa tidak suka bertemu dengannya lagi.

Author:

just an ordinary girl who try hard to find herself

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s