Posted in short story

A Cup of Ice Latte #3

Matahari menyapa lebih cepat pagi ini. Membuatku berhenti hanya untuk mengecek jam tanganku yang lensanya sudah dibasahi beberapa titik air hujan.
Aku menghembuskan nafas lega. Masih cukup waktu sebelum jam kantorku. Banyak sekali jadwal hari ini. Jadi aku tidak boleh terlambat sedetik pun agar semuanya berjalan dengan baik.
Apakah aku terdengar berlebihan. Oh ayolah, tidak seaneh yang kau dengar. Sungguh.
Aku beringsut maju seolah badanku setipis kertas. Pemberhentianku di halte selanjutnya.
Pagi ini begitu menyebalkan. Apakah aku terdengar menggerutu? Ya tapi itu sungguhan. Aku benci hujan yang turun dipagi hari ketika aku harus bertempur-bersama orang-orang lainnya ke tempat kerja. Umm, aku tidak benar-benar membencinya. Aku hanya tidak cukup menyukainya. Aku benci dingin kau tau. Uuuhhhhh, aku tidak menyukainya meskipun aku tak akan bisa tidur tanpa pendingin ruangan yg dinyalakan dan dengan suhu yang cukup rendah.
Apakah aku terlalu banyak menggunakan kata negatif. Oke baiklah, mari sudahi semua gerutuan ini. Aku tidak akan merusak hari ini terlalu dini. Karena sesungguhnya aku sungguh bersemangat hari ini. Aku sangat menyukai hari yang akan terasa sangat sibuk dan aku tetap akan berusaha pulang tepat waktu sehinggu waktunya dapat ku manfaatkan untuk kegiatan menyibukkan lain yg bersifat pribadi. Dan apakah sekarang aku jadi terdengar tidak konsisten?? Membencinya lalu menyukainya. Bukankah itu alami??
Aku merapatkan jaketku dan memastikan hoodyku benar-benar membalut kepalaku. Ummm, aku tidak benar-benar memerlukan payung. Jarak dari halte ke kantorku tidak begitu jauh, dan hujan tidak turun terlalu deras. Mungkin sedikit basah akan membawa dampak baik bagi hariku.
Aku berlari-lari kecil dan merasakan beberapa orang didekatku ikut berlari. Hei sepertinya hujan sudah berhenti.
” apakah kau berencana terkena flu setelah pagi ini?” Umm… kalimat yang kaku, siapa yg berbicara seperti itu kepada……..
Aku menengadah dan butuh waktu cukup lamu untukku tersadar. Ia menjentikkan jarinya di depan wajahku dan aku menyadari aku sudah berhenti berlari-lari kecil.
Ternyata hujannya belum berhenti, itu hanya… hanya karena ada payung yang melindungiku dari rintik hujan.
” oh hai, apakah ini kejutan?” Aku menjawab sama kakunya. Tersenyum canggung dan berharap tidak akan terlihat secanggung itu. Dia masih memayungiku, namun senyum yang lebih lebar tersungging dibibirnya.
” kenapa?” Bingung sendiri dengan ekspresinya. Dan ia menggeleng. Melanjutkan langkah jadi aku mengikutinya. Menuju lobi kantorku.
Pagi ini Ia mengenakan sweater biru dongker, tampak basah dibeberapa bagian karena payungnya hanya memayungiku.
” sudah sampai…” Ia berhenti dan menutup payungnya. ” aku sudah menduga kau takkan membuka payungmu padahal kau membawanya kemana-mana. “Tugasku selesai. Aku pergi dulu. Semoga harimu menyenangkan Rayya.” Ia membalikkan punggungnya. Lalu berlari dengan menenteng payungnya dan membiarkan sweaternya semakin basah. Aku tidak sempat merespon apapun. Mungkin dia akan berpikir aku bodoh atau semacamnya karena berekspresi tolol begini. Biarkan saja. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dan membalikkan badanku menunu lift. Mari selesaikan semuanya hari ini~~

Author:

just an ordinary girl who try hard to find herself

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s