Posted in short story

Akhir #1

Jika saja kau bisa mendengar suara hatiku, mungkin saat ini kau akan berteriak didepanku dan berkata, “bisakah kau hentikan semua omong kosong ini? tidak bisakah kau melepaskan semuanya saja?? melepaskanku. dan berhentilah! kumohon berhentilah mempertanyakannya karena aku yakin kau sudah tau apa jawabannya.”

Lalu setelah itu kau akan berbalik dan pergi. Tanpa pernah melihat kebelakang lagi. Dan aku akan tetap disini. Tertinggal disini. Berusaha keras untuk terus menahan bahkan walau hanya bayanganmu. Agar tetap tinggal. Agar tetap disini. Bersamaku.

Seperti saat itu, saat terakhir kali kau dan aku duduk berhadapan tanpa menatap satu sama lain. Ketika kau terus berbicara dan aku terlihat hanya mendengarkan. Saat itu, aku tidak benar-benar mengingat apa-apa yang kau ucap. Karena aku sibuk membujuk bayangmu untuk tinggal. Karena aku terlalu keras kepala dan hanya meneriakkan satu kata itu didalam kepalaku saja.

Bukankah aku terdengar begitu menyedihkan. Bahkan hujan yang terus turun dihari-hari itu tak mampu menghiburku. Angin yang berhembus dan seharusnya menghangatkanpun tak dapat membantu banyak. Mereka justru memperburuk suasana. Memaksaku untuk mengeluarkan saja semuanya hingga menjadi setengah gila.

Bahkan sore ini, aku masih belum berhenti mencegahmu untuk benar-benar pergi. Aku kembali lagi. Menyusuri jalan-jalan penuh kenangan ini. meskipun telah bertahun-tahun, namun terasa sama. Seperti semuanya baru saja terjadi kemarin. Tetap sama. Tetap menyakitkan. Tetap menghangatkan.

Ya… disinilah aku kembali lagi. Namun kali ini untuk mengakhiri.

Bertahun-tahun berusaha Ku tuangkan semuanya dalam lembaran-lembaran yang akan segera berubah menjadi debu. Melepas belenggu agar dapat terbang bebas lagi. dan bertahun-tahun itu pula, tak satupun kata yang mampu tertuang untuk melepas semua jeratan ini. dan parahnya, tak ada satupun orang yang dapat membantuku terlepas dari ikatan ini.

Ku susuri jalan tak berujung ini lagi. ditemani hembusan angin yang terus mengingatkanku akan hadirmu. berharap ketika jalan ini berakhir nanti, disitulah ikatan itu akan terlepas dan aku akan terbebas.

Ya… disinilah ku susuri jalan ini lagi, hingga semua benar-benar berakhir.

Lupakan saja ketika khayalanku yang liar terus menggambarkan dirimu yang suatu hari akan berpapasan denganku dijalan-jalan ini. Lupakan saja diriku yang tak henti-hentinya membayangkan bahwa kau suatu hari akan kembali dan menyusuri jalan ini lagi untuk menemukanku. Untuk kembali padaku.

Ya… Lupakan saja. Karena walau kali ini aku kembali, namun itu untuk mengakhiri.

Author:

just an ordinary girl who try hard to find herself

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s